Mariabell memiliki kepercayaan diri yang begitu tinggi

Mariabell Rosso : Penguasa yang Hancur oleh Keserakahan

​Ada satu sosok karakter yang memainkan peran penting di season 4 anime Tensura. Ia adalah Mariabell Rosso, sebuah entitas yang mewakili keserakahan semu dan kepercayaan diri berlebihan. Berikut pembahasannya.

​Identitas Mariabell Rosso

Karakter Mariabell Rosso
Karakter Mariabell Rosso

​Mariabell Rosso adalah seorang “Reincarnated” (orang yang bereinkarnasi) yang pada kehidupan sebelumnya merupakan seorang penguasa dan jenius finansial yang mendominasi Eropa.

​Di dunia barunya, ia terlahir sebagai putri dari Kerajaan Siltrosso sekaligus anggota terkuat dari klan Rosso, keluarga yang bertindak sebagai penguasa bayangan di Negara-Negara Barat.

​Bedah Psikologi Mariabell Rosso

​Alasan utama di balik arogansi Mariabell adalah karena ia membawa ingatan dan pengetahuan dari kehidupan sebelumnya sebagai penguasa dan jenius di bidang finansial yang pernah mendominasi Eropa. Di dunia barunya, ia tidak pernah menghadapi ancaman yang benar-benar nyata, sehingga ia menganggap peradaban di dunia baru tersebut kurang maju dan melihatnya semata-mata sebagai “taman bermain pribadinya”. Hal ini membuatnya merasa dirinya berada di atas semua penduduk asli dunia tersebut, sehingga ia sering bertindak arogan dan terlalu percaya diri.

​Secara psikologis, Mariabell sama sekali tidak memiliki empati. Di masa lalunya, ia membangun kekayaan di atas penderitaan dan darah orang lain tanpa pernah meragukan atau menyesali tindakannya. Pola pikir ini terbawa ke kehidupan barunya di mana ia melihat semua orang (bahkan ayah kandung dan saudara-saudaranya sendiri) hanyalah sebagai pion (bidak) yang bisa dimanipulasi demi tujuannya. Mariabell Rosso bergerak berdasarkan rasionalitas yang dingin, di mana emosi dan hasrat (desire) orang lain hanyalah alat untuk ia kendalikan.

Mariabell memiliki kepercayaan diri yang begitu tinggi
Mariabell memiliki kepercayaan diri yang begitu tinggi

​Mariabell menganggap dirinya sebagai “keserakahan itu sendiri” (greed personified). Karena ia memiliki sebuah Unique Skill ‘Greed’ yang mampu memanipulasi hasrat orang lain, ia secara narsistik percaya bahwa tidak ada manusia di dunia ini yang memiliki ambisi atau hasrat lebih besar darinya. Karena hal tersebutlah yang menjelaskan mengapa ia meremehkan orang-orang seperti Yuuki Kagurazaka; ia sangat yakin bahwa kendali pikirannya tidak akan pernah bisa dipatahkan, karena ia tidak bisa menerima realitas bahwa ada orang yang lebih serakah darinya.

​Alasan Mariabell sangat ingin menyingkirkan Demon Lord Rimuru adalah karena ia secara psikologis tidak mampu menerima konsep “berbagi kekuasaan” atau koeksistensi. Baginya, “jika dua orang menunggangi satu kuda, salah satu harus duduk di belakang”. Mariabell menganggap keputusan Rimuru untuk bersekutu dengan manusia dan mengikuti aturan dewan sebagai tindakan yang bodoh karena hal itu menghilangkan kebebasan. Karena prinsipnya adalah “jika Anda bukan orang yang membuat aturan permainan, maka Anda tidak akan bisa menang”, kehadiran Rimuru yang mengancam monopoli ekonominya memicu rasa takut bahwa dunia akan lepas dari genggamannya.

Akibat Keyakinan Absolut pada Kekuatannya

​Mariabell Rosso membuat banyak kesalahan fatal karena ia secara psikologis terjebak dalam gelembung keyakinannya sendiri. Kepercayaan mutlak pada kekuatan ‘Greed’ miliknya membuatnya buta terhadap variabel yang tidak ia ketahui. Dirinya gagal memproses kemungkinan bahwa ada tingkat kekuatan yang kebal terhadap kemampuannya (seperti Ultimate Skill milik Rimuru) atau bahwa pion yang ia yakini telah dikendalikan (Yuuki) sebenarnya sedang berpura-pura. Keangkuhannya menutup akal sehatnya, membuatnya berpikir seorang “Demon Lord” sejati bisa ia kalahkan dengan mudah.

​Dinamika Sosial Mariabell Rosso

​Satu-satunya hubungan sosial yang didasari rasa hormat oleh Mariabell Rosso adalah dengan kakeknya, Granbell Rosso. Ketika Mariabell bertemu dengan Granbell pada usia tiga tahun, ia langsung menyadari bahwa kakeknya memiliki ambisi dan tekad yang terlalu kuat untuk bisa ia dominasi. Alih-alih memanipulasinya, Mariabell memilih untuk jujur, berbagi rahasia, dan akhirnya membangun ikatan serta aliansi yang sangat kuat sebagai rekan yang setara. Granbell menjadi sosok yang membimbing Mariabell dan memberitahukan segala rahasia terdalam dunia kepadanya.

​Kecuali kakeknya, Mariabell berinteraksi dengan ayah kandungnya (seorang raja), saudara-saudaranya, pengasuh, hingga para pelayannya sebagai alat semata. Ia sama sekali tidak membangun ikatan emosional, melainkan membangun interaksi sosialnya dengan cara memanipulasi hasrat (keinginan) mereka dari balik layar, menggunakan kekuatan Unique Skill ‘Greed’ miliknya.

Mariabell menggangap banyak orang sebagai pion semata
Mariabell menggangap banyak orang sebagai pion semata

​Dalam interaksi dengan para penguasa seperti Lima Tetua Agung (The Five Great Elders), Mariabell selalu menempatkan dirinya di posisi diktator yang berkuasa absolut. Saat pertemuan rahasia, ia duduk di kursi paling mewah dan langsung memerintah mereka dengan nada menuntut. Anggota tetua seperti Johann sangat ketakutan padanya, menundukkan kepala dan tidak berani membantah karena takut dibunuh atau dikendalikan pikirannya. Mariabell Rosso juga tidak segan-segan mengorbankan sekutunya sendiri, seperti Gavan, sebagai pion sekali pakai demi tujuannya.

​Dalam berinteraksi dengan sekutu sekaligus bidak utamanya, Yuuki Kagurazaka, Mariabell bertindak sangat arogan. Karena ia merasa yakin telah berhasil mendominasi pikiran Yuuki dengan kekuatannya, Mariabell terus-menerus meremehkannya, bahkan secara terang-terangan mengatakan di depan wajah Yuuki bahwa Yuuki adalah bonekanya yang harusnya merasa senang. Pendekatan sosial yang meremehkan inilah yang akhirnya menjadi bumerang baginya.

​Ketika berhadapan dengan musuh yang tidak bisa ia kendalikan seperti Demon Lord Rimuru, Mariabell berinteraksi dengan penuh permusuhan dan menolak mentah-mentah kompromi dan negosiasi. Saat Rimuru mencoba berdiplomasi dan mengajaknya menjadi sekutu untuk menghindari konflik yang tidak perlu, Mariabell menertawakannya, menolak idealisme Rimuru, dan menyatakan bahwa secara alami yang kuat berhak mengeksploitasi yang lemah.

​Peran Vital Mariabell dalam Cerita

​Dalam cerita That Time I Got Reincarnated as a Slime, karakter Mariabell Rosso memiliki beberapa fungsi krusial yang sengaja “dipakai” oleh penulis untuk menggerakkan dan mengembangkan alur cerita. Berikut adalah penjabarannya:

​1. Sebagai Batu Loncatan (Katalisator Power-Up) bagi Yuuki Kagurazaka

​Fungsi terbesar Mariabell dalam cerita adalah sebagai alat untuk memperkuat antagonis utama, Yuuki Kagurazaka. Cerita menggunakan Mariabell yang terlalu percaya diri untuk merancang jebakan bagi Rimuru, sementara Yuuki berpura-pura berada di bawah kendali pikiran Mariabell.

​Pada akhirnya, kematiannya murni “dipakai” agar Yuuki bisa membunuhnya saat ia lengah dan merampas Unique Skill ‘Greed’ miliknya. Selain itu, eksistensi dan kematiannya berfungsi sebagai kambing hitam yang sempurna bagi Yuuki untuk membersihkan namanya dari segala kecurigaan di Negara-Negara Barat.

​2. Sebagai Pemicu (Trigger) Konflik Puncak Melalui Kegilaan Granbell Rosso

​Kematian Mariabell digunakan oleh cerita sebagai tombol pelatuk untuk memulai konflik skala besar yang baru. Bagi Granbell Rosso, Mariabell adalah “harapan keluarga Rosso” yang akan meneruskan ambisinya. Cerita “mematikan” Mariabell untuk mendorong Granbell ke jurang kegilaan dan keputusasaan. Tanpa kematian Mariabell, Granbell yang sangat berhati-hati tidak akan mengambil langkah nekat seperti bersekutu dengan Yuuki, menyererang domain Demon Lord Luminas, hingga melepaskan segel pahlawan Chronoa yang memicu kekacauan besar.

​3. Alat untuk Menegaskan Hukum Mutlak Kekuatan Dunia (Ultimate vs Unique)

Kekuatan utama Mariabell Rosso tidak cukup kuat
Kekuatan utama Mariabell Rosso tidak cukup kuat

​Secara mekanis dalam penceritaan, konfrontasi Mariabell melawan Rimuru berfungsi sebagai alat demonstrasi untuk satu aturan mutlak di dunia tersebut: Sebuah “Unique Skill” tidak akan pernah bisa mengalahkan “Ultimate Skill“. Penulis menggunakan karakter Mariabell Rosso yang memiliki keyakinan absolut pada kemampuan manipulasi pikirannya, hanya untuk menghancurkan keyakinan tersebut dan menegaskan kepada pembaca seberapa jauh Rimuru telah berkembang setelah membangkitkan Ultimate Skill-nya.

​4. Representasi Benturan Ideologi Ekonomi dan Politik

​Dari sisi pembangunan dunia (world-building), Mariabell dipakai oleh cerita sebagai rintangan politik dan ekonomi pertama yang benar-benar mengancam Tempest dari balik layar. Ia mewakili sifat serakah umat manusia yang menginginkan monopoli absolut, yang secara naratif digunakan sebagai dinding penghalang (antitesis) terhadap idealisme Rimuru yang menginginkan koeksistensi dan kesejahteraan bersama. Kehadirannya memaksa Rimuru untuk tidak hanya menggunakan kekuatan militer, tetapi juga mulai bermain di ranah diplomasi dan dominasi ekonomi.

​Perkembangan Karakter Mariabell Rosso

​Mariabell Rosso mengalami perkembangan karakter yang menurun (negative character arc) atau arc kejatuhan, di mana ia berubah dari seorang dalang manipulator yang sangat rasional dan penuh perhitungan menjadi sosok yang ceroboh, putus asa, dan pada akhirnya hancur karena kesombongannya sendiri. Berikut adalah rincian perubahan karakternya dari awal hingga akhir hidupnya:

​1. Awal: Sang Dalang Rasional yang Sangat Percaya Diri

​Pada awalnya, Mariabell digambarkan sebagai karakter yang selalu bergerak di balik layar, mengandalkan pemikiran yang sangat rasional dan mahir merencanakan skema strategi. Karena membawa ingatan sebagai penguasa Eropa di kehidupan sebelumnya dan tidak pernah menghadapi ancaman nyata di dunia baru, ia berkembang menjadi sosok yang arogan dan terlalu percaya diri. Ia memandang dunia semata-mata sebagai taman bermain pribadinya dan sangat yakin bahwa kemampuannya mendominasi hasrat (Unique Skill ‘Greed’) adalah kekuatan mutlak yang tidak bisa dikalahkan oleh siapa pun.

​2. Titik Balik: Kehilangan Ketenangan dan Membuat Kesalahan Strategis

​Perubahan karakter Mariabell Rosso mulai terlihat ketika Federasi Tempest dan Demon Lord Rimuru mengancam monopoli ekonominya. Merasa bahwa membiarkan Rimuru akan semakin berbahaya seiring berjalannya waktu, Mariabell mulai kehilangan ketenangan rasionalnya dan membuat berbagai kesalahan strategis yang fatal. Alih-alih tetap bersembunyi di balik layar, ia memutuskan untuk turun tangan secara langsung ke medan pertempuran guna melenyapkan Rimuru. Kesombongannya membuatnya meremehkan level kekuatan seorang True Demon Lord dan salah menilai bidaknya sendiri, Yuuki Kagurazaka.

​3. Fase Keputusasaan: Runtuhnya Kesombongan dan Rasionalitas

Kesombongan merupakan dalang kehancuran Mariabell Rosso
Kesombongan merupakan dalang kehancuran Mariabell Rosso

​Ketika Mariabell berhadapan langsung dengan Rimuru, karakter rasionalnya benar-benar runtuh. Ia dihadapkan pada realitas bahwa bidak terkuatnya (Gai) dihancurkan dengan sangat mudah dan yang paling fatal, ia baru menyadari bahwa kekuatan Unique Skill ‘Greed’ miliknya sama sekali tidak berguna melawan pengguna Ultimate Skill seperti Rimuru. Alih-alih menggunakan perhitungan dingin seperti di awal cerita, ia berubah menjadi petarung yang putus asa. Ia nekat membakar “jiwa” dan sisa tenaga kehidupannya sendiri untuk melampaui batas kemampuannya, serta bertaruh mempertaruhkan segalanya hanya untuk membunuh Rimuru. Pada titik ini, ia akhirnya menyadari bahwa bukan Rimuru yang terlalu percaya diri, melainkan dirinya sendiri.

​4. Titik Akhir: Kehancuran Ego dan Identitas Diri

​Perubahan terakhir Mariabell terjadi di penghujung hidupnya. Setelah gagal mengalahkan Rimuru dan mencoba melarikan diri untuk meledakkan reaktor sihir di reruntuhan, ia dihadang oleh Yuuki Kagurazaka. Di sini, sisa ego yang ia miliki benar-benar dihancurkan ketika ia mengetahui bahwa Yuuki selama ini hanya berpura-pura berada di bawah kendali pikirannya. Mariabell yang awalnya menganggap dirinya sebagai manifestasi keserakahan terkuat di dunia, mati dalam ketidakpercayaan saat menyadari bahwa hasrat dan kekuatan Yuuki jauh melampaui ‘Greed’ miliknya. Cahaya di matanya memudar dalam keputusasaan, mengakhiri hidupnya sebagai pihak yang lemah dan terkalahkan.

Sumber referensi :

Haru
Haru

Haru desu, penulis sederhana yang fokus di pembahasan Otaku Culture.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *