Karakter Reid Astrea

Reid Astrea Re:Zero : Sisi Gelap Sang Legenda Pedang Surgawi

Reid Astrea adalah seorang petarung terkuat di masanya. Dirinya dikenal luas sebagai pembawa kedamaian di dunia karena telah berkontribusi dalam hilangnya ancaman terbesar di dunia, namun dirinya menyimpan cerita yang berbeda. Berikut pembahasan lengkapnya.

Identitas Reid Astrea

Karakter Reid Astrea
Karakter Reid Astrea | © Re Zero Production Committee

​Reid Astrea adalah Sword Saint pertama dalam sejarah sekaligus tokoh pahlawan kunci yang ikut menyegel Penyihir Iri Hati (Witch of Envy) sekitar 400 tahun yang lalu. Meskipun dikenal sebagai pendekar pedang terkuat yang menjadi satu-satunya orang penampai tingkat “Pedang Surgawi” (Heavenly Sword), ia sangat jauh dari citra pahlawan mulia karena memiliki kepribadian yang arogan, kasar, vulgar, dan dikendalikan oleh hawa nafsunya.

Bedah Mental Reid Astrea

​Psikologi Reid Astrea sangat didorong oleh keyakinan ekstrem akan kekuatannya yang tak tertandingi, sehingga ia memandang dunia dan orang lain dengan kacamata seorang penguasa mutlak. Bakat luar biasa yang menjadikannya sebagai “Sword Saint” pertama dalam sejarah menumbuhkan tingkat kepercayaan diri yang sangat tinggi.

​Sebagai orang yang berdiri di puncak bela diri dan pedang, ia merasa berhak melakukan apa pun yang ia inginkan tanpa batas, menolak norma dan aturan moral yang biasanya memandu interaksi manusia. Keangkuhan ini, ditambah dengan kekuatan fisiknya, membuat orang lain tidak bisa mendisiplinkan atau menghentikan tindakannya, sehingga sifatnya berkembang seperti “anak nakal yang tidak bisa diatur dalam wujud orang dewasa,” yang murni mengikuti impuls dan hasrat utamanya.

Reid vs Julius Juukulius
Reid vs Julius Juukulius | © Re Zero Production Committee

​Dalam pertempuran, ia cenderung bermain-main dengan lawannya, bahkan menggunakan senjata seadanya seperti sumpit, menganggap orang lain bukan sebagai ancaman yang setara, melainkan sebagai mainan yang lemah yang dapat ia permainkan dengan mudah. Sudut pandangnya yang relatif mengenai kelemahan membuatnya merasa bahwa hampir semua orang di bawah levelnya, sehingga ia bisa menindas, melecehkan, atau bahkan meremehkan orang lain tanpa memedulikan penderitaan mereka.

​Dalam benak Reid Astrea, kekuatan adalah segalanya dan ketiadaan siapa pun yang bisa menyainginya membuat empati dan respek terhadap orang lain lenyap digantikan oleh arogansi dan kebebasan yang tidak lagi terkendali.

Dinamika Sosial Reid Astrea

​Dalam interaksi sosialnya, Reid Astrea menunjukkan sikap yang sangat kasar, vulgar, bermusuhan, dan tidak memiliki rasa hormat terhadap batasan orang lain maupun norma sosial. Dirinya berhubungan dengan lingkungannya secara diskriminatif dalam arti bahwa ia tidak peduli siapa lawannya, baik itu roh jahat, monster, naga maupun manusia, ia akan menyerang dan menebas mereka semua berdasarkan insting atau keinginannya semata.

​Reid juga sama sekali tidak peduli dengan gelar, posisi, atau status sosial seseorang dan ia berinteraksi murni berdasarkan kekuatan dan kebebasannya sendiri. Dalam hubungannya dengan wanita, ia sangat dikendalikan oleh hawa nafsunya, yang terlihat jelas dari kebiasaannya melakukan pelecehan seksual secara fisik kepada orang lain. Ia secara santai menyentuh dada Emilia dengan sumpit saat bertarung dan memiliki kebiasaan meraba-raba Shaula di masa lalu yang membuat Shaula sangat membencinya (bahkan menyebutnya “iblis” dan “orang barbar”) hingga trauma dan pingsan saat melihatnya kembali.

Reid Astrea bisa dianggap sebagai dark system
Reid Astrea bisa dianggap sebagai dark system | © Re Zero Production Committee

​Terhadap lawan atau orang yang ia anggap berada di bawahnya, Reid akan menunjukkan sifat permusuhan dan ejekan yang terus-menerus. Dalam interaksinya dengan kelompok Subaru, ia memanggil Subaru dengan sebutan merendahkan yaitu “Ikan” (Fish), menyiksanya secara mental dan tidak segan untuk membunuhnya berulang kali. Kepada Julius, Reid secara konsisten meremehkan dan mencemooh harga diri serta dedikasi kesatrianya, memperlakukan interaksi mereka layaknya sebuah permainan belaka.

​Bahkan musuh sekelas Uskup Agung Dosa seperti Lye Batenkaitos tidak bisa menjalin percakapan normal dengannya karena Reid hanya peduli untuk menghujaninya dengan hinaan seperti “cebol kotor” (filthy midget-chan). Meskipun kesehariannya dipenuhi dengan sifat menindas, Reid masih mampu menunjukkan rasa hormat di saat-saat terakhir kepada mereka yang berhasil membuktikan tekad dan menyamai kekuatannya, seperti yang ia tunjukkan kepada Julius menjelang kekalahannya.

​Di masa lalu, dalam kelompok pahlawannya, dinamika sosial Reid yang kacau ini hanya bisa diimbangi oleh segelintir orang; misalnya, hubungannya dengan Flugel dideskripsikan memiliki dinamika seperti “Fern dan Stark” (di mana Flugel adalah otaknya dan Reid adalah ototnya), sementara Farsale Lugunica bisa akur dengannya semata-mata karena Farsale memiliki kepribadian yang sangat ramah. Secara keseluruhan, hubungan sosial Reid sangat berpusat pada dominasi yang mengabaikan empati, di mana ia memperlakukan orang lain sebagai mainan atau objek dan interaksinya yang “berhasil” di masa lalu lebih banyak bergantung pada toleransi dan adaptasi dari rekan-rekannya.

Peran Vital Reid Astrea dalam Cerita

​Dalam cerita Re:Zero (khususnya pada Arc 6), karakter Reid Astrea “dipakai” oleh cerita untuk menjalankan beberapa fungsi krusial seperti:

Sebagai Rintangan Utama Absolut (Penguji Menara)

Fungsi dasar Reid dalam cerita adalah bertindak sebagai penguji di lantai dua (Electra) Menara Pengawas Pleiades. Ia digunakan sebagai hambatan fisik dan mental terbesar yang mencegah kelompok Subaru menaklukkan menara tersebut.

Cerita memakai kekuatan Reid yang tidak masuk akal (seperti mengalahkan lawan kuat hanya dengan sepasang sumpit) untuk menetapkan standar tantangan tertinggi yang harus dicari jalan keluarnya oleh para tokoh utama.

Sebagai Katalis Perkembangan Karakter Julius

Ini adalah fungsi naratif Reid yang paling dalam. Cerita menggunakan Reid secara khusus untuk menghancurkan harga diri dan keyakinan Julius Juukulius, lalu membangunnya kembali menjadi lebih kuat.

Melalui kekalahan telak dan ejekan yang merendahkan dari Reid, Julius dipaksa untuk menghadapi kelemahannya, memperbarui kontrak dengan roh-rohnya dan akhirnya menemukan tekad barunya untuk bertarung setara dengan Reid. Peran Reid berakhir ketika ia berhasil mendorong Julius melampaui batasnya menjadi Ksatria Roh Pelangi (Rainbow Spirit Knight).

Sebagai Elemen Kekacauan (Wildcard) dalam Putaran Waktu

Dengan sikap barbarnya Reid bisa dianggap sebagai pengacau sejati
Dengan sikap barbarnya Reid bisa dianggap sebagai pengacau sejati | © Re Zero Production Committee

Cerita menggunakan eksistensi jiwa Reid untuk meningkatkan skala ancaman secara drastis dengan membuatnya mengambil alih tubuh Roy Alphard (Uskup Agung Dosa Kerakusan). Tindakan “pembajakan tubuh” ini membuatnya bangkit kembali dan memungkinkannya membantai Subaru berkali-kali di berbagai putaran waktu (loop).

Dalam hal ini, Reid dipakai sebagai variabel kacau yang membuat ujian menara menjadi jauh lebih mematikan dan tidak bisa diprediksi.

Sebagai Penghancur Mitos Pahlawan Sejarah (Deconstructor of Lore)

Reid dipakai oleh penulis untuk menghancurkan ilusi dan mitos indah tentang pahlawan masa lalu di dunia Re:Zero. Meskipun sejarah mencatatnya sebagai pahlawan mulia pendiri keluarga Astrea yang ikut menyegel Penyihir Iri Hati 400 tahun lalu, namun kemunculannya yang sangat vulgar, kasar, dan barbar membuktikan bahwa legenda tersebut sangat jauh dari kata ideal.

Perannya di sini adalah untuk menghancurkan ekspektasi pembaca dan ekspektasi karakter, membuktikan bahwa pahlawan masa lalu memiliki kecacatan moral yang sangat parah.

Evolusi Karakter Reid Astrea

​Reid Astrea pada dasarnya adalah karakter statis (flat character) yang tidak mengalami perubahan moral atau kepribadian yang drastis. Dari awal kemunculannya hingga akhir eksistensinya di Arc 6, ia tetaplah sosok yang kasar, arogan, vulgar, dan semena-mena.

Namun, terdapat satu perkembangan sikap yang sangat spesifik dan signifikan di sepanjang cerita, yaitu perubahan dalam cara ia memandang dan menghargai lawannya (khususnya Julius Juukulius). Berikut adalah fase perkembangan sikap Reid dari awal hingga akhir:

  1. Fase Awal: Meremehkan Sepenuhnya (Menganggap Orang Lain sebagai Mainan) Pada awal kemunculannya sebagai penguji di lantai dua Menara Pleiades, Reid murni memandang semua penantangnya sebagai makhluk lemah yang tidak pantas dihormati. Hal ini terlihat dari tindakannya: Ia menolak menggunakan pedang dan hanya menggunakan sepasang sumpit untuk menghajar Julius hingga babak belur; Ia merendahkan Julius dengan menyebutnya tidak memiliki bakat; Ia menganggap pertarungan tersebut hanyalah permainan; Ia memanggil Subaru dengan sebutan “Ikan” (Fish).
  2. Titik Balik: Bangkitnya Keseriusan Sang Pendekar Perubahan mulai terlihat pada pertarungan klimaks di putaran (loop) kesembilan Subaru. Ketika Julius akhirnya berhasil memperbarui kontrak dengan roh-rohnya dan melancarkan serangan yang mampu menggores Reid hingga penutup mata kanannya terlepas, Reid mengalami pergeseran sikap. Reid Astrea mulai membuang sumpitnya, akhirnya mengambil pedang aslinya, dan mulai bertarung dengan sungguh-sungguh. Ini menandakan bahwa ia berhenti memandang Julius sebagai mainan dan mulai memandangnya sebagai ancaman atau pendekar yang harus dihadapi dengan serius.
  3. Titik Akhir Cerita: Pengakuan dan Rasa Hormat Perkembangan karakternya mencapai puncak di detik-detik terakhir hidupnya. Ketika pedang Julius akhirnya menembus dadanya (saat Reid memakai tubuh Uskup Agung Kerakusan, Roy Alphard), sikap arogan dan meremehkannya lenyap. Di saat-saat terakhirnya, Reid menunjukkan rasa hormat yang belum pernah ia perlihatkan sebelumnya; ia menanyakan nama Julius, memanggilnya dengan namanya secara pantas, dan mengucapkan selamat kepadanya karena telah lulus ujian menara. Ia juga secara sportif mengakui kekalahannya, meskipun ia berkomentar bahwa hasilnya akan berbeda jika ia memakai tubuh aslinya.

​Reid Astrea tidak berubah menjadi “orang baik” atau pahlawan yang bermoral. Ia mati tetap sebagai pria barbar yang kasar. Namun, ia berkembang dari seorang predator puncak yang memandang semua orang sebagai serangga tak bernama, menjadi seorang pendekar yang pada akhirnya bersedia memberikan pengakuan dan rasa hormat kepada seorang ksatria yang berhasil membuktikan nilainya.

Sumber referensi & rujukan:

Haru
Haru

Haru desu, penulis sederhana yang fokus di pembahasan Otaku Culture.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *